Gue bangun pagi ini, buka timeline, dan yang muncul bukan gosip Raffi-Nagita kayak biasanya. Tapi berita kalau perusahaan mereka resmi jadi perusahaan terbuka di Bursa Efek Indonesia. Serius, ini beneran kejadian hari ini, Jumat 10 Juli 2026. 🎉
Coba deh bayangin. Selama ini kita nonton konten mereka di YouTube, ketawa-ketawa liat TikTok-nya, ikutin drama rumah tangga yang emang sengaja dijadiin konten. Eh sekarang, sahamnya bisa kita beli. Rasanya kayak… gimana ya, jadi bagian dari sesuatu yang biasanya cuma kita tonton dari layar HP.
Tapi tunggu dulu. Sebelum kamu buka aplikasi sekuritas terus asal klik beli karena “kan punya Raffi Ahmad, pasti cuan”, mending kita ngobrol dulu soal apa sebenarnya yang lagi kamu beli.
Jadi RANS Ini Sebenarnya Perusahaan Apa Sih?
Nama resminya PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk. Tapi dulu, jauh sebelum semua orang tahu nama RANS, perusahaan ini bernama PT RNR Film Internasional, berdiri tahun 2016 di Tangerang Selatan. Baru tahun 2021, tepatnya 7 Juli, namanya berubah jadi yang kita kenal sekarang.
Yang menarik, ternyata bisnisnya nggak sesempit yang kita kira. Selama ini kan kita cuma lihat konten YouTube dan TikTok-nya, padahal ada empat lini bisnis yang jalan bareng:
Pertama, ya itu tadi, produksi konten digital—mulai dari serial, mini movie, sampai animasi. Kedua, konser dan event, yang ternyata ini justru jadi lini paling gede dari sisi alokasi dana IPO. Ketiga, ada lini kecantikan namanya Slavina, brand skincare punya Nagita. Dan keempat, ada joint venture bisnis AI bareng Feedloop Global Teknologi. Iya, RANS juga mau main di AI.
Soal siapa yang pegang saham, ini bagian yang bikin gue mikir dua kali. Sebelum IPO, Raffi Ahmad megang 78,68% saham—jadi ya, ini emang bisnisnya dia banget. Tapi di belakangnya ada nama-nama yang nggak main-main: Dony Oskaria yang sekarang jadi Kepala BP BUMN sekaligus COO BPI Danantara, Sutanto Hartono selaku Dirut SCMA, sampai Kaesang Pangarep. Bahkan PT Indonesia Entertainmen Grup, anak usahanya SCMA, juga ikut masuk sebagai pemegang saham.
Jadi ini bukan sekadar “bisnis keluarga artis” doang. Ada jaringan industri media yang cukup kuat berdiri di baliknya. Setelah IPO, kepemilikan Raffi memang terdilusi jadi 62,93%, tapi tetap aja dia yang pegang kendali.
Ngomongin Angka: Berapa Sih Harga Sahamnya?
Oke, masuk ke bagian yang paling banyak dicari orang.
Kode sahamnya RANS, jenisnya saham biasa. Harga IPO final ditetapkan di Rp170 per saham—ini angka tertinggi dari kisaran bookbuilding yang sebelumnya Rp135–Rp170. Total ada 2,525 miliar saham baru yang dilepas, setara 20,02% dari modal perusahaan setelah IPO, dengan target dana terkumpul sekitar Rp429,25 miliar. Kalau dihitung kapitalisasi pasarnya, estimasinya ada di rentang Rp1,70 triliun sampai Rp2,14 triliun.
Nah ini yang bikin rame di kalangan investor: porsi saham publik cuma 20,02%, padahal aturan baru BEI mensyaratkan minimum free float 25% buat perusahaan dengan market cap di bawah Rp5 triliun. Sempat jadi pertanyaan juga, katanya. Tapi pihak BEI sendiri sudah menjelaskan bahwa kalau dihitung dengan saham eksisting lain yang juga masuk kategori free float, angkanya jadi 28,85%—jadi tetap memenuhi ketentuan.
Cuma ya, free float yang nggak terlalu besar ini punya konsekuensi: harga sahamnya berpotensi lebih gampang bergerak liar, entah pas lagi banyak yang beli atau pas lagi banyak yang jual. Soal minat pasar, jangan ditanya—antrean pemesanan sahamnya tembus 1.092.166 SID saat masa penawaran ditutup. Angka yang gede banget buat ukuran IPO.
Nah, Ini Bagian yang Sering Kelewat: Kinerja Keuangannya
Ini nih yang menurut gue penting banget buat dibahas, karena biasanya luput dari obrolan “wah IPO artis nih, pasti hype”.
Faktanya, pendapatan RANS di 2025 itu Rp353,38 miliar—turun 13,91% dibanding tahun sebelumnya yang Rp410,50 miliar. Labanya juga ikut turun, malah lebih parah: Rp56,69 miliar di 2025, anjlok 41,60% dari Rp97,07 miliar di 2024.
Kenapa bisa gitu? Menurut analisis yang beredar, ini karena biaya buat ekspansi ekosistem baru—Cipungland, AI, sampai Slavina—lagi gede-gedenya, sementara monetisasinya belum jalan penuh. Jadi ibaratnya lagi tanam benih, belum panen.
Dengan harga Rp170 dan laba segitu, valuasi RANS ada di kisaran PER 30 sampai 38 kali. Buat yang belum ngerti PER itu apa: itu rasio harga saham dibanding laba perusahaan. Angka segini biasanya cocok buat perusahaan teknologi yang lagi tumbuh pesat, bukan perusahaan media yang labanya justru lagi menyusut. Artinya, harga yang dibayar pasar sekarang itu lebih ke arah “percaya sama cerita masa depannya”, bukan berdasarkan kinerja yang udah kebukti sekarang.
Risiko yang perlu kamu tahu:
- Bisnisnya lumayan bergantung sama personal brand Raffi Ahmad dan Nagita Slavina
- Model bisnis konser dan event itu sifatnya project-based, jadi wajar naik-turun
- Valuasi yang udah premium bikin ruang “murah” buat masuk jadi tipis
Dana hasil IPO sendiri rencananya paling banyak dipakai buat opex konser (37,61%), sisanya buat ekspansi Cipungland, akuisisi Slavina, pelunasan utang ke BNI, dan modal buat bisnis AI.
Terus, Layak Nggak Dibeli?
Ini pertanyaan yang jujur aja, nggak ada jawaban pasti benar atau salah. Tergantung kamu mau main sebagai apa.
Beberapa analis pasar modal memperkirakan saham RANS berpeluang menyentuh batas Auto Rejection Atas (ARA) di hari pertama perdagangan. Salah satu alasannya karena penjamin emisinya, Trimegah Sekuritas, sebelumnya juga jadi underwriter buat beberapa IPO yang langsung melesat di hari pertama. Tapi analis yang sama juga mengingatkan, harga IPO yang dipatok di batas atas book building itu lebih mencerminkan strategi perusahaan buat memaksimalkan dana yang terkumpul, bukan berarti valuasinya emang murah secara fundamental.
Kalau kamu tipe yang emang niat main jangka pendek, momentum listing day, ya silakan pelajari risikonya baik-baik. Tapi kalau kamu lebih ke value investor yang nyari fundamental kuat, ada baiknya nunggu dulu—liat laporan keuangan kuartal pertama pasca-listing, buat pastiin apakah tren penurunan laba ini udah mulai membaik atau belum.
Beberapa hal yang perlu kamu tanya ke diri sendiri sebelum mutusin beli:
- Nyaman nggak sih kalau bisnisnya bergantung banget sama satu figur publik?
- Siap nggak kalau harganya naik-turun kayak roller coaster karena sifat bisnisnya project-based?
- Udah siap belum kalau di pasar sekunder nanti harganya nggak seindah euforia hari pertama?
Kalau mau lebih aman, jangan all-in pas hari listing, perhatiin juga likuiditasnya (inget, free float-nya nggak terlalu besar), dan sesuaikan porsi investasi sama kemampuan kamu nanggung risiko—bukan sama seberapa besar rasa penasaran kamu.
Jadi, Gimana Kesimpulannya?
RANS ini emang punya modal yang kuat: nama besar, follower jutaan, dan cerita yang bikin orang penasaran pengen ikut jadi bagian dari perjalanannya. Tapi di balik semua hype itu, ada pekerjaan rumah yang nggak kecil—kinerja keuangan yang lagi menurun dua tahun beruntun, dan valuasi yang tergolong premium.
Tantangan ke depannya jelas: RANS harus buktiin kalau ekspansi ke Cipungland, bisnis AI, sampai Slavina itu beneran bisa nge-boost pendapatan mereka, bukan cuma nambah beban biaya. Kalau berhasil, bisa jadi cerita sukses yang menarik. Kalau nggak, ya risikonya harga saham bisa terkoreksi.
Jadi, kamu masuk tim yang mau ikutan euforia hari pertama, atau tim yang lebih sabar nunggu dan liat dulu laporan keuangannya keluar? Share di kolom komentar ya. 🤔
Catatan: seluruh data dan angka dalam artikel ini disarikan dari prospektus resmi PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk serta pemberitaan media yang telah terverifikasi. Jadwal dan ketentuan pelaksanaan IPO dapat berubah sesuai keputusan resmi OJK dan BEI. Ini bukan saran finansial ya, DYOR.



